Copyright © It's mine
Design by Dzignine
Selasa, 01 Januari 2013

"Air Sejuta Umat"

Jika mendengar nama Banten, yang akan muncul ditelinga kita mungkin memang bukan destinasi pariwisata, melainkan gubernur tersangka korupsi atau bahkan budaya santet menyantet. Tapi, bayangan yang demikian tentulah salah. Banten memiliki banyak hal menarik selain budaya santet. Provinsi paling ujung dari pulau Jawa ini juga diberkahi dengan wisata alam dan budaya yang istimewa. Namun, banyak keistimewaan dari Provinsi Banten yang sama sekali tidak diketahui oleh warganya, seperti rawa cidangdang yang memamerkan keindahan rawa beserta tanamannya yang hijau ataupun cagar alam pulau dua yang memperlihatkan burung-burung liar terbang bebas tanpa sangkar.
Bicara mengenai keistimewaan Banten, banyak pula hal-hal maupun tempat-tempat istimewa di Banten pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf (1570-1580 M). Mulai dari masjid agung banten, menara banten, keraton-keraton kerajaan, danau-danau pemandian para keluarga sultan dan yang lainnya. Pada masa tersebut, keluarga dari Sultan Maulana Yusuf tinggal di keraton-keraton kerajaan, seperti keraton surosowan dan keraton kaibon. Para puteri kerajaan juga memiliki tempat pemandian khusus yang dibuat ditengah danau. Danau buatan tersebut bernama situ tasikardi. Selain digunakan untuk pemandian, pulau dan danau tersebut juga digunakan sebagai tempat rekreasi para sultan dan keluarganya serta sebagai penampungan air yang digunakan untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya, juga untuk mengairi areal persawahan. Air dialirkan melalui penyaringan yang disebut dengan istilah pangindelan. Terdapat tiga pangindelan, yakni pangindelan abang, pangindelan putih dan pangindelan emas, sebelum akhirnya menjadi air bersih. Antara situ tasikardi dengan bangunan pangindelan dihubungkan dengan pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat yang dibakar atau disebut dengan terakota.
 




       Saung-saung untuk rekreasi

Situ tasikardi ini memiliki luas sekitar 5 hektar, sementara arinya hanya memenuhi sekitar 4 hektar dengan kedalaman lebih dari 1 meter. Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.
Saat ini, situ tasikardi dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, sehingga penampilan dari tasikardi yang sekarang berbeda dengan masa lalu. Sudah banyak bangunan-bangunan baru seperti saung-saung untuk tempat rekreasi, musholla dan beberapa tempat penjualan makanan.








Saung-saung yang digunakan untuk tempat rekreasi
Selain itu, terdapat permainan berupa bebek-bebekan yang dapat digunakan untuk mengintari danau. Namun, pulau yang berada ditengah danau buatan, tak lagi dipergunakan untuk tempat pemandian, dikarenakan airnya yang mulai surut, juga kebersihannya yang kurang terawat. Juga sisa-sisa saluran yang menghubungkan antara tasikardi dengan pangindelan kini sudah tidak dapat terlacak lagi karena daerah disekitar pangindelan sudah menjadi persawahan penduduk.










                Pemandian puteri kerajaan yang dengan berjalannya waktu menjadi kering

0 komentar:

Posting Komentar