Filsafat adalah suatu cara
atau metode pemikiran yang menanyakan sifat dasar dan hakiki yang tampil dimuka
kita.
Filsafat mencoba menerangi
pertanyaan sebagai berikut : Apa arti hidup dan kegiatan, kebebasan dan cinta,
alam semesta, manusia dan Allah.
Filsafat manusia jelasnya
adalah filsafat yang mengupas apa arti manusia sendiri, ia mencoba mengucap
sebaik mungkin apa sebenarnya makhluk itu yang disebut “manusia”, istilah
filusuf manusia atau “antropologi filusuf” (antropos dalam bahasa Yunani
berarti manusia) tampak lebih eksok karena apa yang di pelajari dengannya
adalah manusia sepenuhnya, roh serta badan jiwa serta daging.
Alasan yang membawa kita untuk
mempelajari filsafat manusia cukup jelas.
1. Pertama
manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan dan kewajiban (sampai batas
tertentu) untuk menyelidiki arti yang dalam “dari yang ada” kerap kali dalam
usia remaja manusia merasa dalam dirinya sendiriang paling pribadi suatu
dorongan yang menurut Sokrates, telah didengarnya di bawah langit Delphi :
“Kenalilah dirimu sendiri”
Kesulitan suatu filsafat manusia
Kini semakin banyak
bermunculan ilmu yang menggarap manusia dalam sudut pandang khusus.
Asal usulnya corak bentuknya,
tindakan-tindakannya adalah misalnya biologi, embriologi, psikologi, sosiologi,
antropologi, etnologi, dan sebagainya.
Dikatakan oleh para filusuf
hingga kini tentang manusia tidaklah menimbulkan keraguan-keraguan, meraka
telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya saling
bertentangan.
Bagi palto dan Platinus,
manusia itu adalah suatu makhluk ilahi.bagi Epikuros dan Lukretius, sebalik nya. Manusia adalah makhluk yang berumur
pendek lahir krena kebetulan, dan akhirnya sama sekali lenyap dan masih banyak
pendapat-pandapat yang lain yang juga bertentangan. .
Perlunya dan kemungkinan filsafat manusia
Memang berat bahwa ilmu
pengetahuan, seni dan sastra mengajarkan banyak kepada kita mengenai aspek
manusia yang berbeda-beda, dan pelbagai tahap dalam pertumbuhan serta
evolusinya. Akan tetapi, pada suatu ketika juga penting bertanya pada diri
sendiri. Apakah manusia itu? Apakah keseluruhannya itu yang begitu banyak
aspeknya? Seperti yang dikatakan Victor E. Frankl, seorang psikiater dari
Australia “Tantangan adalah bagimana mencapai, mempertahankan dan membangun
kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia, di hadapan data-data dari
penemuan-penemuan terpencar-pencar yang di sajikan kepada kita oleh suatu ilmu
manusia yang begitu digolong-golongkan (a compartmentalized science of man)”.
Watak dan sifat manusia, objek filsafat
manusia
Adanya watak sifat ini
memungkinkan membedakan manusia secara pasti dari makhluk-makhluk lain. Tanpa
adanya watak sifat yang dimiliki bersama oleh semua manusia, filsafat dan
setiap ilmu pengetahuan tentang manusia tidak akan terjalan.
Para ahli antropologi
mengajari kita bahwa apa yang orang Eropa dan Amerika di anggap tanpa ragu-ragu
sebagai ciri khas kelakuan manusia tidak lah dianggap demikian oleh orang
Afrika atau Asia. Bahkan dari orang-orang dari kebudayaan yang sama tidak selalu
mudah untuk menyesuaikan pendapat tentang apa yang normal apa yang tidak,
tentang yang bermoral dan yang tidak. Misalnya, tentang cara berdandan dan
terutama tentang hidup seksual. Itu tidak berarti bahwa tidak ada watak sifat
manusia, melainkan bahwa hal itu adalah kompleks.
Apa yang membedakan filsafat manusia dari
ilmu-ilmu lain tentang manusia
Ilmu-ilmu pengetahuan tentang
manusia,sedikit mirip dengan ilmu tentang alam, berbudaya untuk menemukan
hokum, perbuatan manusia, sejauh perbuatan itu dapat di pelajari secara
indrawi/bisa dijadikan objek untuk introspeksi. Adapun filsafat menyerahkan
penyelesaiannya terhadap segi yang lebih mendalam dari manusia, karena lebih
fundamental dan lebihontologis, maka sudutnya lebih luas dan lebih mempersatukan,
lebih global. Vokabulet yang khas baginya adalah mengenai gagasan-gagasan
universal dan terutama transcendental, yang menggambarkansifat-sifat yang
mepengaruhi segala realitas : kebenaran, kebaikan, keindahan, aktivis,
alteritas, dll.
Mereka terus-menerus
menggunakan gambar-gambar dan lambing-lamban. Meraka menciptakan karya-karya,
tokoh-tokoh yang masing-masing mempunyai semacam kehidupan sendiri .
karya-karya dari tokoh itu banyak memperkaya pengetahuan kita tentang manusia
universal.
Akan tetapi itu selalu terjadi
melalui drama perorangan dan pribadi, peristiwa-peristiwa khusus seperti
antiguna, Hamlet, Lorenzacio), sedangkan filsafat berupaya menarik secara
langsung ketentuan-ketentuan universal yang ajek dari watak-sifat manusia.
Titik tolak dan objek tepat filsafat manusia
Walaupun filsafat selalku
tergantung pada konteks kebudayaan dimana ia berkembang, namun ia tetap
merupakan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan jumlah atau perpaduan
segala pengetahuan dari suatu zaman. Itu disebabkan karena
kesimpulan-kesimpulan tersebut tidak menjawab secara langsung
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh filsafat dari sudut pandang yangkhas
baginya jadi tidak dituntut bawa filsafat mempergunakan kesimpulan-kesimpulan
itu sebagai titik tolak yang wajib bagi pemikirannya. Maka seharusnya lebih
baik bertolak dari pengetahuan tentang manusia serta dunia yang secara wajar
ada pada setiap individu, begitu pula filsafat manusia memiliki manusia itu
sendiri sebagai objek inaterial, tetapi objek formalnya berbeda dengan objek
formal ilmu-ilmu lain tentang manusia. Objek formal filsafat itu adalah inti
manusia, setrukturnya yang fundamental. Apa artinya?.
Pertama struktur fundamental
itu bukan sesuatu yang bersifat fisik, yang dapat digambarkan, ia hanya dapat
diketahui melalui usaha daya piker saja. Ia bukan bagian atau potongan dari si
manusia, juga bukan alat yang kiranya tersembunyi di dalam organisme, seperti
motor, mobil didalam kerangkanya.
Keyakinan bahwa struktur otak
bentuk fundamental semacam ini harus terdapat didalam manusia bukan hasil dari
suatu persepsi inderawi, melainkan kesimpulan dari suatu penangkapan
intelektual setelah ditentukan perspektif serta titik pandang yang merupakan
cirri khas filusuf. Maka sebagai penutup introduksi ini di jelaskan secara
singkat metode filsafat.
Metode Filsafat
Pada dasarnya, filsafat
terutama bersifat interogatif. Ia mengajukan persoalan-persoalan dan
mempertanyakan apa yang tampak sudah jelas. Akan tetapi, yang memberi sifat khas
pada interogasi sang filusuf adalah bahwa introgasinya diarahkan kepada hal
yang paling fundamental. Karena ingin pergi sampai ke jantung hol-hol atau
sampai ke akarnya maka dikatakan bahwa filusuf bersifat meradikalisasikan.
Para pemikir abad pertengahan
menyempurnakan metode itu. Bagi mereka, pertanyaan itu merupakan ititk tolak
wajib bagi setiap pemaparan. Akan tetapai sang doctor pada zaman itu, sebelum
menjawab secar pribadi pertanyaan yang diajukan, membentangkan lebih dahulu
rangkaian pendapat yang positif dan negative yang semuanya telah di ajukan
sebelumnya tentang pertanyaan itu.
Pada Hagel, dialektik menjadi
cara yang mulai dengan perlawanan dua ide yang saling bertentangan lalu
mendamaikan mereka dalamunsur ketiga yang mengandung kudua ide itu dalam bentuk
sintesis baru.





0 komentar:
Posting Komentar