Copyright © It's mine
Design by Dzignine
Senin, 07 Desember 2015

Psikologi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Apakah Psikologi Itu?
Menurut arti kata – katanya, psikologi sering diterjemahkan menjadi ilmu jiwa. Karena berasal dari kata psyche = jiwa, roh, dan logos = ilmu. Psikologi adalah ilmu yang ingin mempelajari manusia. R.S. Woodword member batasan tentang psikologi sebagai berikut: “Psychology can be defined as the science of the activities of individual” Dengan singkat dapat dikatakan bahwa psikologi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Crow & Crow memberikan batasan tentang psikologi sebagai berikut : psychology is the study of human behavior and human relationship. Dari batasan tersebut jelas bahwa yang dipelajari oleh psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi  manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia lain (human relationship) maupun yang bukan manusia : hewan, iklim, kebudayaan, dan ssebagainya.
2.      Objek Psikologi dan Macam – macamnya
. Karena sifat – sifat manusia yang sangat kompleks dan unik, maka objek psikologi biasanya dibedakan menjadi 2 macam :
a.       Objek material, yakni objek yang dipandang secara keseluruhannya. Adapun objek material dari psikologi adalah manusia. Disamping itu manusia juga menjadi objek bagi ilmu – ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, sejarah, biologi, ilmu kedokteran, ilmu hukum, ilmu mendiddik,  dll.
b.      Objek Formal, dalam hal ini objek formal dari psikologi itu berbeda beda menurut perubahan zaman dan pandangan para ahli masing – masing. Pada zaman Yunani sampai dengan abad pertengahan misalnya, uang menjadi objek formalnya adalah hakekat jiwa. Kemudian pada masa Descartes objek psikologi itu adalah gejala – gejala kesadaran,  yakni apa apa yang langsung kita hayati dalam kesadaran kita: tanggapan, perasaan, emosi – emosi, hasrat, kemauan, dll.
Pada aliran Behaviorisme yg timbul di Amerika pada permulaan abad ke-20 ini yg menjadi objeknya ialah tingkah laku manusia yg tampak(lahiriah). Sedangkan pada aliran psikologi yang di pelopori oleh Freud, objeknya adalah gejala – gejala ketidak sadaran manusia.
3.      Hubungan Psikologi dengan Ilmu – Ilmu Lain
a.       Psikologi dan Antropologi
Secara etimologis, antropologi berarti ilmu tentang manusia, antropos = manusia, dan logos = ilmu. Antropologi sebagai ilmu yang masih muda (timbul antara perang dunia I dan II) mempunyai perhatian terhadap semua cabang pengetahuan yg berhubungan dengan manusia, yaitu manusia sebagai gejala biologis dan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya. Antropologi dapat dibagi menjadi dua yaitu : Antropologi fisik, dan Antropologi kebudayaan. Antropologi fisik berhubungan  dengan ciri – ciri fisik dari berbagai manusia di dunia (ras, warna kulit, bentuk & warna rambut, besar & berat otak, ciri-ciri fisik lainnya dan juga sifat-sifat intelektual dan emosional dari suatu kelompok manusia).
Antropologi kebudayaan berhubungan dengan berbagai kebudayaan, kepribadian yg tipikal yang terdapat dalam tiap kebudayaan, pengaruh-pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian seseorang dan masyarakat.Seorang ahli antropologi memusatkan perhatiannya terhadap berbagai ciri dari suatu kebudayaan tertentu; membandingkannya dengan kebudayaan yang lain. Apa yang diselidiki oleh antropologi, sebenarnya juga banyak yang merupakan objek-objek dari psikologi.
Psikologi menyelidiki tingkah laku manusia sebagai individu. Untuk mengetahui suatu individu tidak mungkin yg namanya terlepas dari bagaimana kebudayaan masyarakat tempat individu itu hidup dan dibesarkan. Sebaliknya, untuk mengetahui suatu kebudayaan tertentu seringkali diperlukan untuk mengerti/mengetahui bagaimana orang-orang/individu – individu dalam masyarakat itu mengalami dan merasakannya. Jadi psikologi dan antropologi itu  keduanya menyangkut daerah dan masalah – masalah tertentu yg bersamaan, keduanya saling isi-mengisi (suplementer). Perbedaan yang yg prinsipiil hanyalah terletak pada apa yang menjadi tekanannya. Psikologi menekankan pada individu sedangkan antropologi menekankan pada kelompok.
b.      Psikologi dan Sosiologi
Sosiologi juga merupakan suatu ilmu yang secara langsung berhubungan dengan tingkah laku manusia. Seperti halnya dengan Antropologi ia berhubungan dengan masalah manusia dalam kelompok; masalah hubungan sosial. Hanya biasanya sosiologi itu menyangkut hubungan kelompok manusia yang lebih kecil, sedangkan antropologi mengenai kelompok masyarakat yang lebih luas. Para ahli sosiologi lenih memusatkan perhatiannya kepada tingkah laku kelompok. Ia mempelajari pengaruh – pengaruh kelompok trhadap individu-individu yg termasuk ke dalam kelompok itu. Masalah – masalah sosial yang diselidiki oleh sosiologi antara lain masalah – masalah kejahatan, kenakalan/kejahatan anak – anak, perceraian/talak, perkembangan dan perubahan sifat – sifat keluarga, dan sebagainya. Juga mengenai pengaruh tekanan – tekanan sosial terhadap kepribadian, dan cara tekanan sosial itu mempengaruhi individu.
Melihat kepada apa yg menjadi objek sosiologi seperti di atas, tampak oleh kita bahwa ilmu (psikologi dan sosiologi) inipun mempunyai banyak persamaan. Perbedaannya: Psikologi menekankan pada person individu, mengapa individu bertingkah laku seperti yg dia lakukan, sedangkan sosiologi menekankan pada sifat-sifat dan tingkah laku kelompok. Yang dipelajari oleh sosiologi terutama ialah hubungan sosial manusia.
c.       Psikologi dan Fisiologi
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi-fungsi berbagai organ yg ada dalam tubuh manusia (seperti: fungsi perut dan hati, limpa dan empedu) dan berbagai sistem peredaran (seperti: peredaran makan, peredaran darah, pengeluaran sisa-sisa pembakaran, dsb). Juga mempelajari bagaimana organ-organ dan sistem-sistem peredaran itu berinteraksi satu sama lain. Apa yg diselidiki/dipelajari oleh psikologi ialah mengenai personal individu itu sendiri. Individu sebagai kesatuan jasmani dan rohani. Jadi meskipun psikologi menyelidiki fungsi-fungsi jasmani, selalu ada hubungan dengan fungsi - fungsi/kegiatan – kegiatan rohani individu.
4.      Apakah Psikologi Pendidikan itu ?
Sepanjang atau selagi kita masih berpendapat bahwa psikologi adalah suatu ilmu yg berusaha menyelidiki semua aspek kepribadian dan tingkah laku manusia, baik yg bersifat jasmaniah maupun rohaniah, baik secara teoritis maupun dengan melihat kegunaannya di dalam praktek, baik secara individual, maupun dalam hubungannya dengan manusia lain atau lingkungannya, mungkin kita akan mengatakan bahwa ‘psikologi pendidikan’ itu sudah termasuk di dalam psikologi, dan tidak perlu dipersoalkan atau dipisahkan menjadi suatu disiplin ilmu itu sendiri.
Kini para ahli psikologi pendidikan pada umumnya berpendapat bahwa psikologi pendidikan adalah psikologi yang diterapkan di dalam pendidikan. Selanjutnya dijelaskan pula dalam Encyclopedia America bahwa belajar yang efisien juga bergantung/dipengaruhi oleh iklim belajar (learning climate) yg mencakup keadaan fisik, sosial dan mental siswa, minat, sikap, dan nilai – nilai, sifat-sifat kepribadian, kecakapan-kecakapannya, dan sebagainya. Karena psikologi pendidikan mendasarkan uraiannya pada metode-metode ilmiah untuk mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuan di dalam bidang pendidikan maka psikologi pendidikan disebut pula ilmu terapan atau ‘applied science’.
      Senada dengan apa yg telah diuraikan di atas, Crow & Crow pun menyatakan bahwa psikologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang berusaha menjelaskan masalah-masalah yg dialami individu dari sejak lahir sampai berusia lanjut, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhi belajar.
      Apapun yang dikemukakan oleh para ahli tentang psikologi pendidikan, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yg dalam penguraian dan penelitiannya lebih menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat kaitannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.
5.      Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
      Crow & Crow secara eksplisit mengenmukakan: psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan (applied science) berusaha untuk menerangkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta – fakta menegenai tingkah laku manusia yg telah ditentukan secara ilmiah.
      Sesuai dengan pendapatnya itu, Crow & Crow mengemukakan bahwa data yang dicoba didapatkan oleh psikologi pendidikan, yg dengan demikian merupakan ruang lingkup psikologi pendidikan, antara lain ialah :
1)      Sampai sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar;
2)      Sifat – sifat dari proses belajar;
3)      Hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar (learning readiness);
4)      Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan – perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar;
5)      Perubahan – perubahan jiwa (inner changes) yang terjadi selama dala belajar;
6)      Hubungan antara prosedur – prosedur mengajar dengan hasil belajar;
7)      Teknik – teknik yg sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam belajar;
8)      Pengaruh/akibat relatif dari pendidikan formal dibandingkan dengan pengalaman – pengalaman belajar yg incidental dan informal terhadap suatu individu;
9)      Nilai/manfaat sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personil sekolah;
10)  Akibat/pengaruh psikologis (psychological impact) yang ditimbulkan oleh kondisi – kondisi sosiologis terhadap sikap para siswa.






BAB II
PEMBAWAAN, KETURUNAN DAN LINGKUNGAN
1.      Soal Pembawaan dan Lingkungan
Soal pembawaan ini adalah soal yg tidak mudah dan dengan demikian memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun – tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi, dan lain – lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan:  perkembangan manusia itu tergantung kepada pembawaan ataukah kepada lingkungan ? Atau dengan kata lain dalam perkembangan anak muda hingga menjadi dewasa faktor – faktor yg menentukan itu, kadang – kadang yg dibawa dari keturunan ( pembawaan) ataukah pengaruh-pengaruh lingkungan ?
Dalam usaha menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut perlu di sini dikemukakan adanya beberapa pendapat :
a.       Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor – faktor yg dibawa sejak lahir. Pembawaan yg telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yg menentukan hasil perkembangannya. Menurut Nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat – sifat pembawaan. Jadi kalau benar pendapat tersebut, maka percumalah kita mendidik, atau dengan kata lain : pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu pendidikan, ini disebutpesimisme paedagogis.
b.      Aliran Empiris
Aliran ini mempunyai pendapat yang berlawanan dengan kaum Nativisme. Mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak jecil. Manusia – manusia dapat dididik menjadi apa saja (kea rah yg baik maupun kea rah yg buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme paedogogis. Kaum behavioris pun sependapat dengan kaum empiris.
c.       Hukum Konvergensi
Hukum ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua–duanya menentukan perkembangan manusia. Dalam aliran yg menganut hukum konvergensi itu sendiri masih terdapat dua aliran, yaitu aliran yang dalam hukum konvergensi ini lebih menekankan kepada pengaruh pembawaan daripada pengaruh lingkungan, dan yang sebaliknya. Sementara itu kita belum puas juga dengan/atas jawaban dari hukum konvergensiitu, yg mengatakan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan (merupakan hasil) dari dua buah faktor ialah pembawaan dan lingkungan.

2.      Pembawaan dan Keturunan
a.       Keturunan
Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri – ciri pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat – sifat atau ciri – ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel – sel kelamin dan generasi yang lain. Ada dua syarat untuk memutuskan suatu sifat atau ciri – ciri yang terdapat pada seseorang itu keturunan atau bukan, yaitu :
1)      Persamaan sifat atau ciri – ciri, dan
2)      Ciri – ciri ini harus menurun melalui sel – sel kelamin.
b.      Pembawaan
1.      Pengertian Pembawaan
Pembawaan ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan – kesanggupan (potensi)yg terdapat pada suatu individu dan yang selama masa perkembangannya benar – benar dapat diwujudkan (direalisasikan).
2.      Struktur Pembawaan
Pembawaan itu menyatakan diri dalam perwujudannya (dari potential ability menjadi actual ability), kita hendaklah selalu ingat bahwa sifat – sifat dalam pembawaan (potensi-potensi) itu seperti : potensi untuk belajar ilmu pasti, berkata – kata yg baik, dll, merupakan struktur pembawaan anak – anak. Jadi sifat – sifat dalam pembawaan itu tidak berdiri sendiri – sendiri yang satu terlepas dari yang lain. Sifat – sifat yang bermacam-macam dalam pembawaan itu merupakan keseluruhan yg erat hubungannya satu sama lain, yang satu menentukan, mempengaruhi, menguatkan atau melemahkan yg lain.
3.      Pembawaan dan Keturunan
 pembawaan ialah seluruh kemungkinan yang terkandung dalam sel –benih yang akan berkembang mencapai perwujudannya. Pembawaan (yang dibawa si anak sejak lahir) adalah potensi – potensi yang aktif dan pasif, yang akan terus berkembang hingga mencapai perwujudannya. Dengan demikian dapatlah kita katakana bahwa cacad yang ada pada anak adalah pembawaannya (yang dibawa sejak lahir).
Jadi kesimpulannya ialah : Semua yang dibawa oleh si anak sejak dilahirkan adalah diterima karena kelahirannya; jadi memang adalah pembawaan. Tetapi pembawaan itu tidaklah semuanya diperoleh karena keturunan. Sebaliknya, semua yang diperoleh karena keturunan adalah dapat dikatakan pembawaan: atau lebih tepat lagi pembawaan keturunan.
4.      Pembawaan dan Bakat
Sebenarnya kedua istilah tersebut adalah dua istilah yang sama maksudnya. Umumnya dalam buku – buku psikologi kita dapati kedua istilah itu sejajar, sama – sama dipakai untuk satu pengertian, yaitu pembawaan (aanleg). Untuk menggantikan kata aanleg kedua istilah tersebut di atas dapat digunakan sama – sama dengan maksud yang sama pula.
Kalau kita rasakan benar – benar kedua istilah itu memang ada perbedaannya. Titik berat perbedaannya terletak  pada luas pengertiannya:  yang satu mengandung pengertian yang lebih luas dari pada yang lain.

5.      Beberapa Macam Pembawaan dan Pengaruh Keturunan
a.       Beberapa macam pembawaan berikut :
1.      Pembawaan Jenis
2.      Pembawaan Ras
3.      Pembawaan Jenis Kelamin
4.      Pembawaan Perseorangan
b.      Banyak sifat – sifat pembawaan perseorangan yang dalam pertumbuhannya lebih ditentukan oleh linngkungannya. Adapun yang termasuk pembawaan perseorangan yg dalam pertumbuhannya lebih ditentukan oleh pembawaan keturunan anatara lain :
1.      Konstitusi tubuh : termasuk di dalamnya: motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air muka, gerakan bicara. Kretschmer dalam bukunyaKorperbau und Character menyatakan bahwa antara bentuk tubuh dan watak seseorang terdapat korelasi yang tertentu. Sehingga ia berpendapat bahwa watak seseorang antara lain ditentukan pula oleh bentuk tubuhnya (ingat pelajaran psikologi tentang Karakterologi/Ilmu Watak).
2.      Cara bekerja alat – alat indra: Ada orang yg lebih menyukai beberapa jenis perangsang tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimiliki oleh ayah atau ibunya.
3.      Sifat-sifat ingatan dan kesanggupan belajar: (Mengenai sifat – sifat ingatan)
4.      Tipe – tipe perhatian, intelejensi konsien (I.Q) serta tipe – tipe intelejensi.
5.      Cara – cara berlangsungnya emosi – emosi yang khas : Cepat atau lambatnya bereaksi terhadap sesuatu: dengan keras atau dengan tenang; cara timbulnya perasaan atau pikiran dan sebagainya (temperamen).
6.      Tempo dan ritme perkembangan.
6.            Lingkungan (Environment)
a.       Macam – Macam Lingkungan
Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) menngatakan bahwa lingkungan (environment) ialah meliputi semua kondisi – kondisi dalam dunia ini yang dalam cara – cara tertentumempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan  atau life processes kita kecuali gen – gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan (to provide environment) bagi gen yang lain.
Menurut Sartain lingkunga itu dapat dibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :
1)      Lingkungan alam/luar (external or physical environment),
2)      Lingkungan dalam (internal environment), dan
3)      Lingkungan sosial/masyarakat (social environment).
b.      Bagaimana Individu Berhubungan dengan Lingkungan?
Allport merumuskan kepribadian manusia sebagai berikut : “Kepribadian adalah organisasi dinamis daripada system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan”.
Dari rumusan/definisi tersebut jelas bahwa kepribadian manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan individu saja, tanpa sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungannya.
Menurut Woodworth, cara – cara individu itu berhubungan dengan lingkungannya dapat dibedakan menjadi 4 macam :
1.      Individu bertentangan  dengan lingkungannya
2.      Individu menggunakan  lingkungannya
3.      Individu berpartisipasi dengan lingkungannya, dan
4.      Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.




BAB III
MENGAPA MANUSIA BERINTERAKSI DENGAN DUNIA LUAR
1.      Tenaga – Tenaga Pendorong Pada Manusia
Manusia adalah makhluk yang belum selesai, belum lengkap dan yang membutuhkan dunia luar untuk berkembang mencapai kesempurnaannya, baik jasmani maupun rohani. Dorongan nafsu itulah yang merupakan kekuatan di dalam diri kita, yang mendorong kita maju untuk memiliki benda – benda dan nilai – nilai itu. Dorongan nafsu adalah bentuk penjelmaan hidup yang tertentu.
Dalam garis besarnya, dorongan nafsu itu dapat dibagi menjadi tiga golongan :
a.       dorongan nafsu mempertahankan diri:  mencari makanan jika lapar, menjaga diri agar tetap sehat, dan sebagainya.
b.      dorongan nafsu menngembangkan diri. Dorongan ingin tahu, melatih dan mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya. Pada manusia dorongan inilah yang menjadikan kebudayaan manusia makin maju dan makin tinggi.
c.       dorongan nafsu mempertahankan jenis: manusia ataupun hewan secra sadar ataupun tidak sadar , selalu menjaga agar jenisnya atau keturunannya tetap berkembang dan hidup. Dorongan nafsu ini antara lain terjelma dalam adanya perjodohan dan perkawinan serta dorongan untuk memeilihara dan mendidik anak-anak.
Adapula yang membagi dorongan nafsu itu mejadi 4 macam sebagai berikut :
a.       Dorongan nafsu vital (hayati) : ialah daya pendorong dalam diri manusia yang diarahkan pada tercapainya nilai – nilai atau benda – benda yang berfaedah bagi organism (jasad).
b.      Dorongan nafsu egois: Istilah ini jangan dikacaukan dengan istilah yang dipakai sehari – hari, yang berarti hasrat mementingkan diri sendiri. Nafsu egois ini diberi demikian, karena yang menjadi tujuan dari nafsu itu ialah perkembangan diri pribadi sebagai seseorang, keinsyafan akan “kesadaran pribadi”. Nafsu ini mendorong manusia kepada penghayatan akan kepercayaan kepada diri sendiri, menghargai diri, kemerdekaan batin, dan perasaan tanggung jawab.
c.       Dorongan nafsu sosial: Nafsu ini menyatakan akan kebutuhan sosial/pergaulan di dalam hidup bersama, penyesuaian diri dengan dan pengabdian diri kepada masyarakat. Hidup dorongan nafsu sosial, mendorong manusia berkumpul dan mengadakan kontak dengan manusia lain, berupa persahabatan, perkawinan dan sebagainya yang memungkinkan hidup bermasyarakat. Jelas bahwa dorongan nafsu egois deng n dorongan nafsu sosial itu bukan merupakan suatu pertentangan (berlawanan) melainkan keduanya saling mengisi satu sama lain. Tidak mungkin adanya hasrat sosial tanpa adanya keinsafan akan harga diri. 
d.      Dorongan nafsu supra sosial: Dorongan nafsu ini diarahkan kepada penghayatan atas perhubungan dengan Yang Maha Kuasa, sebagai asal sesuatu yang ada. Disini terletak segala penghayatan religius (keagamaan), yang dapat menjelma menjadi kepercayaan terhadap salah satu agama. Hidup nafsu ini membawa manusia kepada penyerahan diri seluruhnya, sebagai tujuan manusia yang tertinggi dan terakhir.
2.      Daya-daya/alat-alat Interaksi Manusia dengan Dunia Luar
a.       Pengamatan
Pengamatan ialah suatu daya jiwa untuk memasukkan kesan-kesan dari luar melaui/dengan menggunakan alat indera. Pengamatan merupakan dasar bagi setiap pengalaman dan pengetahuan seseorang. Fungsi pengamatan ini disebut fungsi reseptif (menerima) dan berlaku pada masa sekarang. Ada 4 faktor yang memungkinkan terjadinya suatu pengamatan : perangsanng (stimulus – benda yang diamati), alat indera – otak – dan perhatian.
b.      Ingatan
Kesan-kesan yg tertinggal dari pengamatan di dalam diri manusia yg berupa tanggapan-tanggapan maupun pengertian itu disimpan untuk sewaktu – waktu dikeluarkan lagi. Daya untuk menyimpan dan mengeluarkan kesan – kesan itu disebut daya ingatan. Fungsi ingatan tidak terikat oleh waktu dan tempat serta berhubungan dengan waktu lampau. Sifat-sifat ingatan pada tiap-tiap orang berbeda-beda. Dari hasil penyelidkan psikologi dapat kita ketahui, bahwa ingatan pada anak – anak di bawah umur 10 tahun pada umumnya masih bercampur dan dikuasai oleh fantasinya. Ingatan anak (terutama ingatan mekanis) berkembang dengan baik di antara umur 10 – 14 tahun. Di atas umur 14 tahun kekuatan menerima pelajaran masih selalu  bertambah, tetapi kekuatan mengingat – ingat makin berkurang (terutama mekanisnya). Pada anak pubertas dan pada orang dewasa ingatan mekanisberangsur-angsur menjadi kurang kekuatannya dan makin berubah menjadi ingatan logis ingatan yang berdasarkan pengertian.
c.       Fantasi
Fantasi ialah daya jiwa untuk menciptakan tanggapan – tanggapan atau kesan – kesan yang baru dengan bantuan tanggapan – tanggapan yang sudah ada. Di dalam fungsinya daya fantasi menyertai daya pengamatan dan daya pemikiran manusia. Ada 2 pendapat yang bertentangan terhadap perkembangan dan gunanya fantasi itu bagi manusia.
Montessori , seorang ahli didik Italia yg mendirikan Taman Kanak-Kanak atau Casa dei Bambini, berpendapat bahwa fantasi itu tidak baik dikembangkan pada diri anak-anak karena menurut pendapatnya melatih berfantasi pada anak – anak itu berarti mengajar berdusta. Akan tetapi Frobel yg juga sebagai ahli didi (Jerman) yg mendirikan Taman Kanak-Kanak (Kindergarten) berpendapat yang sebaliknya. Menurutnya fabtasi itu dan penting sekali dikembangkan pada diri anak – anak. Itulah sebabnya di sekolah Frobel anak-anak diperbolehkan memilih dan dan menggunakan alat-alat permainan di sekolahnya dengan bebas. Di sekolah Montesori alat-alat sekolahnya hanya boleh digunakan untuk keperluan/pekerjaan tertentu, seperti yg telah ditetapkan.
d.      Perasaan
Perasaan adalah gema psikis yang biasanya selalu menyertai setiap pengalaman dan setiap daya – daya psikis yang lain. Gejala – gejala perasaan itu biasanya disertai dengan gejala – gejala jasmaniah. Intensitas perasaan: kuat lemahnya perasaan yang dihayati seseorang. Tiap perasaan selalu berubah – ubah intensitasnya. Kadang – kadag menjadi kuat, kadang – kadang menjadi lemah. Hal ini tergantung kepada/dipengaruhi keadaan jasmani dan rohani kita, dan bagaimana situasi yang kita hadapi.




BAB IV
BERFIKIR
1)      Bahasa dan Berfikir
Berfikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa, hewan tidak. “Bahasa” hewan adalah bahasa insthink yang tida perlu dipelajari dan di ajarkan. Bahasa manusia adalah hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan singkat, karena memiliki dan mampu berbahasa maka manusia berpikir. Bahasa adalah alat yang terpenting bagi berpikir. Tanpa bahasa manusia tidak dapat berfikir. Karena erat hubungannya antara bahsa dan berfikir itu, Plato pernah mengatakan dalam bukunya Sophistes “berbicara itu berfikir yang keras (terdengar), dan berfikir itu adalah “berbicara batin”.
2)      Apakah Berfikir Itu?
Berfikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang menngakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berfikir untuk menemukan pemahaman/pengertian yang kita kehendaki.
3)      Pendapat Beberapa Aliran Psikologi tentang Berfikir
a.       Psikologi Asosiasi mengemukakan, bahwa perfikir itu tidak lain dari pada jalannya tanggapan-tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran psikologi asosiasi berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah terjadinya, tersimpanya dan bekerjanya tanggapan-tanggapan. Pendapat inilah yang kemudian menimbulkan pendidikan dan pengajaranyang bersifat intelektualisitis dan verbalistis. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah John Locke (1632-1704) dan Herbart (1770-1841). Dengan adanya eksperimen – eksperimen yang dilakukan oleh para ahli psikologi kemudian pendapat aliran ini tidak dapat dipertahankan lagi.
b.      Aliran Behaviorisme: berpendapat bahwa “berfikir” adalah gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot-otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan “buah pikiran”. Jadi menurut Behaviorisme “berfikir” tidak lain adalah berbicara. Pada Behaviorisme u sur yang paling sederhana itu adalah refleks.Refleks adalah gerakan/reaksi taksadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar. Dalam penyelidikan terhadap tingkah laku manusia, Behaviorisme hanya mau tahu soal tingkah laku luar (badaniah) saja.
c.       Psikologi Gestalt memandang bahwa gestalt yang teratur mempunyai peranan yang besar dalam berpikir. Psikolo gestalt  berpendapat bahwa proses berfikirpun seperti proses gejala – gejala psikis yang lain – merupakan suatu kebulatan. Penganut psiklogi gestalt memandang berfikir itu merupakan keaktifan psikis yang abstrak, yg prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indera kita. Proses belajar itu dilukiskan sebagai berikut: “Jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus di pecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema/bagan yang masih agak kabur-kabur. Bagan itu dipecahkan dan di banding-bandingkan dengan seksama.
d.      Para ahli – ahli psikologi sekarang sependapat bahwa proses berfikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1)      Timbulnya masalah, kesulitan yang harus dipecahkan,
2)      Mencari danmengumpulkan fakta-fakta yang dianggap ada sangkut pautnya dengan pemecahan masalah,
3)      Taraf pengelohan atau pecernaan; fakta diolah dan dicernakan,
4)      Taraf penemuan atau pemahaman; menemukan cara memecahkan masalah,
5)      Menilai, menyempurnakan dan mencocokkan hasil penyempurnaan.
4)      Beberapa Macam Cara Berfikir
a.       Berfikir Induktif
Berfikir induktif ialah suatu proses dalam berfikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atu sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri/sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi.
b.      Berfikir Deduktif
Berfikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berfikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena – fenomena yg khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
c.       Berfikir Analogis
Analogi berarti persamaan atau perbandingan, Berfikir analogis ialah berfikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenemona-fenomena yang biasa/pernah dialami. Di dalam cara berfikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena – fenomena yg pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yg dihadapi sekarang.
5)      Hasil-hasil Penyelidikan tentang Berfikir
a.       Oswald Kulpe dengan rekan-rekannya, setelah mengadakan eksperimen-eksperimen terhadap mahasiswa-mahasiswanya dengan menggunakan metode instropeksi-eksperimental, mendapat kesimpulan sebagai berikut:
1)      Bahwa di dalam diri manusia terdapat adanya gejala-gejala psikis yg tidak dapat diragukan. Disamping kesan-kesan dan tanggapan-tanggapan yg diperoleh dengan alat indra masih ada gejala-gejala yg lebih abstrak dan tidak dapat diragukan. Hal demikian terjadi antara lain waktu orang berfikir.
2)      Bahwa pada waktu berfikir, aku atau pribadi orang itu memegang peranan yang penting. Si “aku” bukanlah faktor yang pasif (seperti pendapat psikologi asosiasi), melainkan merupakan faktor yang mengemudikan semua perbuatan sadar.
3)      Bahwa berfikir itu mempunyai arah tujuan yang tertentu (determine rende tendens). Arah tujuan berfikir itu ditentukan / dipengaruhi oleh soal atau  masalah yang harus di pecahkannya.
b.      Frohn dan kawan – kawannya, setelah menyelidiki bagaimana proses dan perkembangan  berfikir pada anak – anak yang bisu tuli dan membandingkannya dengan anak-anak yang normal, mengambil kesimpulan sebagai berikut:
‘Berfikir ialah bekerja dengan unsur-unsur yg abstrak dan bergerak ke arah yang ditentukan oleh soal/masalah yg dihadapi. Tetapi anak-anak kecil, anak-anak yg terbelakang, dan anak-anak yg bisu-tuli, dalam berfikir itu tidak dapat melepaskan diri dari baying-bayang/tanggapan-tanggapan kongkret. Karena itu mereka tidak dapat membentuk pikiran-pikiran yg logis dan umum.
c.       Otto Selz dan Willwoll
Dari penyelidikan tehadap  peranan tanggapan dalam proses berfikir, mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut :
Selz : Bahwa tanggapan-tanggapan kongkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali atau hanya sedikit sekali pengaruhnya dalam proses berfikir. Tanggapan konkret tidak amat melancarkan dan tidak pula amat merintangi jalannya pikiran.
WillwollBahwa tanggapan-tanggapan kongkret dapat mengganggu dan menghabat jalannya berfikir. Tanggapan-tanggapan kongkret baru berharga sesudah bagian-bagiannya yg tidak perlu telah dihilangkan oleh tenaga jiwa kita, sehingga tinggal sarinya yang asli saja.
d.      Hasil-hasil penyelidika berfikir yg telah disebutkan di atas, berpengaruh besar sekali terhadap perbaikan cara-cara mendidik dan mengajar di sekolah-sekolah. Dalam mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya mengisikan pengetahuan atau tanggapan-tanggapan yg banyak ke dalam otak anak-anak. Anak harus diajar berfikir dengan baik.





BAB V
INTELEJENSI

1.      Apakah Intelejensi Itu?
Intelejensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. William Stern berpendapat bahwa intelejensi ialah kesanggupan untuk menyelesaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya.

2.      Percobaan-percobaan kohler tentang intelejensi
Dalam penyelidikannya tentang intelejensi, kohler mengadakan eksperimen-eksperimen dengan hewan seekor simpanse yang di beri makan dengan pisang. Simpanse yang berada di dalam kandang di beri makan pisang lebih jauh dari kandang (bagaimana simpanse mengambil pisang dengan jarak yang jauh)
3.      Apakah Ciri-ciri Perbuatan Intelijen ?
a.       Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.
b.      Perbuatan intelijen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis
c.       Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
d.      Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.
e.       Dalam berbuat intelijen seringkali menggunakan daya mengabstraksi.
f.       Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan
g.      Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang dihadapi.
4.      Faktor-faktor Apakah yang Mempengaruhi Intelijensi Seseorang ?
a.       Pembawaan
b.      Kematangan
c.       Pembentukan
d.      Minat dan Pembawaan yang khas
e.       Kebebasan

5.      Tes Intelijensi
Orang yg menemukan tes intelijensi pertama kalinya ialah seorang dokter bangsa Perancis Alferd Binet dan pembantunya Simon. Sehingga tesnya terkenal dengan nama Tes Binet Simon. Tes ini diberi nama “Chelle matrique de I’intelegence” atau Skala Pengukuran Kecerdasan. Tes Binet Simon ini terdiri dari sekumpulan pertanyaan –pertanyaan yg telah dikelompokan menurut umur. Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibuat mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah.
6.      Hasil-hasil Penyelidikan Intelijensi
a.       Mungkin ada benarnya, pendapat yang mengatakan intelijensi itu bergantung kepada dasar dan keturunan (hereditas);
b.      Tercapai atau tidaknya batas kecerdasan atau batas kemapuan pikiran seseorang yang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dariluar.
c.       Adanya kekuatan tumbuh dari dalam itu harus kita akui, tiap – tiap anak mengalami perkembangan dalm perkembangan intelijensinya.
d.      Mendapatkan sendiri suatu paham yang baru adalah jauh lebih sukar daripada pemahaman pendapat-pendapat oranglain yang sudah ada.
7.      Bagaimana Hubungan Intelijensi dengan Kehidupan Seseorang ?
Kecerdasan atau intelijensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai dimana kemungkinan tadi dapat di realisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang ada. Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap antara tingkatan intelijensi dengan tingkatan hidup seseorang. Dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan ahli antropologi dan psikologi, juga masih disangsikan adanya korelasi yang tetap antara bentuk/berat otak dengan intelijensi, antara bentuk tubuh dengan dasar kejahatan dan antara intelijensi dengan kemiskinan.






BAB VI
MOTIVASI

1.      Apakah Motivasi Itu ?
Sartain mengatakan : pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan (goal) adalah yang menentukan/membatasi tingkah laku organisme itu. Jika yang kita tekankan adalah faktana/objeknya, yang menarik organism itu, maka kita gunakan istilah “perangsang” (incentive).
2.      Klasifikasi Motif-motif
a.       Sartain membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
-          Physiological drive, ialah dorongan – dorongan yang bersifat fisiologis/jasmaniah, seperti lapar, haus, dan sebagainya
-          Social motives, ialah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia yang lain dalam masyarakat, seperti : dorongan estetis, dorongan selalu ingin berbuat baik, dan sebagainya.
b.      Woodworth mengadakan klasifikasi motif-motif sebagai berikut : Mula-mula ia membedakan/membagi motif-motif itu menjadi dua bagian : unlearned motives(motif-motif pokok yang tidak dipelajari) dan learned motives (motif-motif yang dipelajari).
Yang dimaksud ke dalam unlarned motives ialah motif-motif yang timbul disebabkan oleh kekurangan-kekurangan/kebutuhan-kebutuhan dalam tubuh, seperti lapar, haus, dan sebgainya yang semuanya itu menimbulkan dorongan dalam diri untuk minta supaya dipenuhi, atau menjauhkan diri daripadanya.
Selanjutnya Woodworth menyatakan bahwa motif-motif pada seseorang itu berkembang melalui kematangan, latihan, dan melalui belajar. Dengan melalui latihan dan kehidupan sehari-hari, maka unlearned motives pada seseorang makin berkembang dan mengalami perubahan-perubahan seperti berikut :
1)      Tujuan-tujuan dan motif-motif menjadi lebih mengkhusus.
2)      motif-motif itu makin berkombinasi menjadi motif-motif yang lebih kompleks.
3)      tujuan-tujuan perantara, dapat menjadi/berubah menjadi tujuan yang sebenarnya.
4)      motif-motif itu dapat timbul karena adanya perangsang-perangsang baru
c.       Motif-motif itu dapat pula dibedakan  sebagai berikut :
1)      motif instrinsik, dan
2)      motif ekstrinsik
3.      Bagaimana Hubungan Motif-motif dengan Minat (Interest) ?
Motif-motif obyektif menyatakan diri dalam kecenderungan-kecenderungan umum untuk menyelidiki dan mempergunakan lingkungan. Motif menyelidiki adalah jelas tampak pada hewan dan pada manusia. Dalam kenyataan sehari-hari motif mempergunakan lingkungan dan motif menyelidiki itu seringkali menjadi satu. Dari eksplorasi dan manipulasi yang dilakukan anak-anak itu lama-lama timbullah minat terhadap sesuatu. (Ingat peribahasa Jawa, witing tresno jalaran saka kulino). Dari pengalaman itu anak berkembang kea rah berminta/tidak berminat kepada sesuatu.
4.      Pertentangan (Konflik) antara Motif-Motif
Sartain membedakan 3 macam konflik/pertentangan antara motif-motif itu sebagai berikut:
a.       Approach – avoidance conflict
Pertentangan pertama ini merupakan pertentangan antara motif-motif yang saling berlawanan maksud atau tujuannya. Dalam konflik ini yang menjadi objek atau tujuannya adalah sama (satu).
b.      Approach – approach conflict
Pertentangan macam kedua ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.      Convergent approach – approach conflict, terjadi bila dua motif uang bertentangan satu sama lain mendorong seseorang kepada objek tujuan yang sama.
2.      Divergent approach – approach conflict, pada konflik ini terdapat dua motif dan satu tujuan yang bersaingan satu sama lain dalam satu saat yang sama.
c.       Pada konflik macam ketiga (avoidance-avoidance), terdapat dua objek – tujuan yang kedua-duanya tidak diinginkan, tetapi salah satu di antaranya harus dipilih.
5.      Motif-motif yang Disadari dan Tidak Disadari
Adler dan Kunkel menyatakan bahwa di dalam tingkah laku atau perbuatan-perbuatan manusia dapat dibedakan adanya dua tujuan, “tujuan semu” dan “tujuan sebenarnya”. Suatu perbuatan dikatakan bertujuan semu, jika tujuan (motif) yang hendak dicapai bukan tujuan (motif) yang menjadi pangkal hidupnya yang sebenarnya. Tujuan semu itu gunanya hanya untuk menyembunyikan motif tidak sadar yang kurang baik.
6.      Apakah Fungsi/Gunanya Motif-motif Itu?
Guna / fungsi dari motif – motif itu ialah :
a.      Motif itu mendorong manusia untuk berbuat/bertindak.
b.      Motif itu menentukan arah perbuatan.
c.       Motif itu menyeleksi perbuatan kita.
7.      Motif dan Motifasi
Motif menunjukkan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasiadalah “pendorongan”; suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu hingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Menurut kebanyakan definisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu :
-          Menggerakan berarti menimbulkan kekuatan pada individu; memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu
-          Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku.
-          Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar hatus menguatkan (reinforce) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.
Hoy dan Miskel dalam buku Educational Administration (1982 : 137) mengemukakan bahwa “motivasi dapat didefinisikan sebagai kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan ketegangan, atau mekanisme-mekanisme lainnya yg memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang di inginkan kea rah pencapaian tujuan-tujua personal”.
8.      Tujuan Motivasi
Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan ssesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru tujuan motivasi adalah untuk menggerakan atau memacu para siswanya agar timbul keinginandan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah.  Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan di sadari oleh yang dimotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi.
9.      Teori Motivasi
a.      Teori Hedonisme
Hedone adalah Bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran dalam filasafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut padangan hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupannya yang penuh kesenangan dan kenikmatan.
Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang akan cenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, ataua yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.
b.      Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok (naluri) yaitu :
-          dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri,
-          dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri, dan
-          dorongan nafsu (naluri) mengembangkan/mempertahankan jenis.
Dengan dimilikinya ketiga naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan ataupun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.
c.       Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Teori ini disebut juga sebagai teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini apabila seorang pemimpin ataupun seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin ataupun pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya.
d.      Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Oleh karena itu, menurut teori ini, bila seorang pemimpin ataupun pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan juga rekasi yang dipelajari ari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya.
e.       Teori Kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pemimpin ataupun pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang,ia harus berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan – kebutuhan orang yang akan dimotivasinya. 
f.        Teori Abraham Maslow
Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia, yaitu :
1)      Kebutuhan fisiologis: kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan vital.
2)      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security).
3)      Kebutuhan sosial (social needs), yang meliputi kebutuhan akan dicintai, diakui, dan sebgainya.
4)      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs).
5)      Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization).
10.  Beberapa Saran bagi Pengembangan Motivasi dalam Pendidikan
Untuk mengembangkan motivasi yang baik pada anak-anak didik kita, di smping kita harus menjauhkan saran-saran atau sugesti yang negative yang dilarang oleh agama atau yang bersifat asocial dan dursusila, yang lebih penting lagi adalah membina pribadi anak didik agar dalam diri anak – anak terbentuk adanya motif-motif yang mulia, luhur, dan dapat diterima di masyarakat. Kita dapat mengatur dan menyediakan situasi-situasi yang memungkinkan timbulnya persaingan atau kompetensi yang sehat antar anak didik kita, membangjitkan self-competition dengan jalan menimbulkan perasaan puas terhadap hasil-hasil dan prestasi yang telah mereka capai, betapa pun kecil sedikitnya hasil yang dicapai itu. Pada umumnya motivasi instrinsik lebih kuat dan lebih baik dari pada motivasi ekstrinsik oleh karena itu, bangunkanlah motivasi instrinsik pada anak-anak didik kita.




BAB VII
BELAJAR
1.      Pengertian Belajar
a.       Higard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning (1975) mengemukakan; “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah lakuseseotang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)”.
b.      Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatalan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
2.      Bagaimana Proses Belajar Itu Berlangsung ?
Beberapa macam cara penyesuaian diri yang dilakukan manusia dengan sengaja maupun tidak sengaja, dan bagaimana hubungannya dengan belajar.
1.      Belajar dan Kematangan
2.      Belajar dan Penyesuaian Diri
3.      Belajar dan Pengalaman
4.      Belajar dan Bermain
5.      Belajar dan Pengertian
6.      Belajar dan Menghafal/Mengingat
7.      Belajar dan Latihan
3.      Beberapa Teori Belajar
Teori belajar yang terkenal dalam psikologi antara lain ialah :
a.       Teori Conditioning
1)      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Menurut teori ini conditioning belajar itu adalah suatu proses yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari pada conditioning. Yakni hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya. Kelemahan teori ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
2)      Teori Conditioning dari Guthrie
Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi/respon dari perangsang/stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan.
3)      Teori Operant Conditioning (Skinner)
Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu :
a.       Respondent response : respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Misalnya keluar air liur setelah melihat makanan tertentu.
b.      Operant response: Yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforrcer.
4)      Teori Systematic Bahavior (Hull)
Clack C. Hull mengemukakakn teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasarpenngurangan kebutuhan itu. Jadi, prinsip yang utama adalah: suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai suatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya. Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation(motivasi insentif) dan drive stimulus reduction (pengurangan stimulus pendorong).
5)      Teori Connectionism (Thorndike)
Menurut teori trial and error ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta. 
6)      Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt
Teori ini seringpula disebut field theory atau insight full learning. Menurut para ahli psikologi Gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Dengan demikian maka belajar menurut Psikologi Gestalt bukan hanya sekedar merupakan proses asosiasi antara stimulus-respon yang makin kuat karena adanya latihan-latihan atau ulangan-ulangan. Belajar menurut psikologi Gestalt terjadi jika adapengertian (insight), yang muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat oleh hubunganantara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian di pahami sangkut pautnya, dimengerti maknanya.
4.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
a.       Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual,yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain :
-          faktor kematangan/pertumbuhan
-          kecerdasan/intelejensi
-          latihan dan ulangan
-          motivasi
-          sifat-sifat pribadi seseorang
b.      Faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial, yang termasuk kedalam faktor sosial antara lain :
-          keadaan keluarga
-          guru dan cara mengajar
-          alat-alat pelajaran
-          motivasi sosial
-          lingkungan dan kesempatan

5.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar (Rangkuman)
Gambar di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (raw input) merupakan bahan baku yang perlu diolah, dalam hal ini di beri pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar-mengajar (teaching-learning procces). Terhadap/di dala proses belajar-mengajar itu turut berpengaruh pula sejumlah faktor lingkungan yang merupakan masukan lingkungan (environmental input), dan berfungsi sejumlah faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan (instrumental input) guna menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki (output). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.
Disamping itu, masih ada lagi faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar pada setiap dapat di ikhtisarkan sebagai berikut :
6.      Transfer dan Lupa dalam Belajar 
a.       Transfer Belajar
Transfer belajar terjadi apabila seseorang dapat menerapkan sebagian atau semua kecakapan-kecakapan yang telah dipelajarinya ke dalam situasi lain yang tertentu. Biasanya transfer ini terjadi karena adanya persamaan sifat antara yang lama dengan yang baru, meskipun tidak benar-benar sama. Terjadinya transfer dalam belajar tergantung kepada cara individu itu mengamati dan mengalami kedua situasi yang telah dan yang akan dipelajarinya, dan tergantung pula kepada sifat dari kedua situasi itu dan cara bagaimana individu itu belajar
b.      Teori Daya dan Transfer
Menurut teori daya(formal discipline), daya-daya jiwa yang ada pada manusia itu dapat dilatih. Menurut teori daya pada tiap matapelajaran di sekolah pendidik perlu melatih daya-daya itu (daya ingatan, berfikir, merasakan, dsb, sehingga daya-daya yang sudah terlatih itu akan dapat digunakan dalam mata-mata pelajaran yang lain dan juga bagi pekerjaan-pekerjaan lain di luar sekolah.  Penganut teori daya beranggapan bahwa anak-anak yang pandai di sekolah sudah tentu akan pandai pula dalam masyarakat.
Teori daya terlalu mementingkan nilai formal dalam tiap-tiap mata pelajaran di sekolah. Pandangan inilah yang menimbulkan cara-cara mengajar yang bersifat verbalistis dan intelektualistis, yang hingga kini masih merajalela dalam dunia pendidikan disekolah – sekolah pada umumnya.
c.       Perihal Lupa
Setelah di adakannya penyelidikan , ternyata orang cenderung lebih menerima bahwa lupa itu tergantung kepada :
1)      apa yang diamati
2)      bagaimana situasi dan proses pengamatan itu berlangsung,
3)      apakah yang tejadi dalam jangka waktu berselang itu, dan
4)      bagaimana situasi ketika berlangsungnya ingatan itu.
7.      Cara-cara Belajar yang Baik
Dr. Rudolf Pintner  mengemukakan sepuluh macam metode di dalam belajar, seperti berikut :
a.       Metode keseluruhan kepada bagian
b.      Metode keseluruhan lawan bagian
c.       Metode campuran antara keseluruhan dan bagian
d.      Metode resitasi (mengulangi)
e.       Jangka waktu belajar
f.       Pembagian waktu belajar
g.      Membatasi kelupaan
h.      Menghafal
i.        Kecepatan belajar dalaam hubungannya dengan ingatan
j.        Retroactive inhibition
8.      Saran – saran untuk Membiasakan Belajar yang Efisien
Berikut adalah saran-saran yang di kemukakan Crow and Crow dengan singkat dan terinci untuk mencapai hasil belajar yang lebih efisien.
1)      miliki dahulu tujuan belajar yang pasti
2)      usahakan adanya tempat belajar yang memadai
3)      jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental
4)      rencanakan dan ikutilah jadwal untuk belajar
5)      selingilah belajar itu dengan waktu-waktu istirahat yang teratur
6)      carilah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari tiap paragraph
7)      selama belajar gunaka metode pengulangan dalam hati
8)      lakukan metode keseluruhan bilamana mungkin
9)      usahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat
10)   buatlah catatan – catatan atau rangkuman yang tersusun rapi
11)   Dll.








BAB VIII
THE SELF DAN FRUSTASI
A.    THE SELF
1.      Apakah yang Dimaksud dengan The Self ?
Menurut Sartain the self adalah individu sebagaimana dipandang/diketahui dan dirasakan adalah individu itu sendiri. Jadi perkataan the self berarti meliputi semua penghayatan, anggapan, sikap dan perasaan – perasaan, baik yang disadari maupun tidak disadari , yang ada pada seseorang tentang dirinya sendiri.
2.      Apakah Gunanya “The Self” bagi Tiap-tiap Orang ?
Menurut Sartain cara-cara seseorang mempertahankan (dan kadang-kadang juga untuk memuaskan) the self dapat dibagi menjadi empat golongan :
a.       Dengan menyerang kepada sumber-sumber yang menyebabkan frustasi
b.      Dengan mengelakkan/menghindarkan diri dari situasinya
c.       Dengan memeperbaharui/mengubah lingkungan sekitarnya (situasinya)
d.      Dengan membangun kembali (mengubah) “the self”

B.     FRUSTASI
1.      Apakah Frustasi Itu ?
Jika hasrat dalam batin tak dapat diberi kepuasan, tidak dapat terpenuhi karena suatu rintangan dan kita merasa sangata kecewa karenanya maka hal itu yang dinamakan frustasi. Jadi, frustasi sebenarnya ialah keadaan batin seseorang, ketidak seimbangan dalam jiwa, suatu perasaan tidak puas karena hasrat/dorongan yang tidak dapat terpenuhi. (Frustration = kekecewaan).
2.      Rintangan-rintangan Manakah yang Dapat Menimbulkan Frustasi ?
Woodworth dalam bukunya Psychology mengemukakan bahwa rintangan-rintangan yang dapat menimbulkan frustasi itu dapat di bagi menjadi 4 golongan besar :
a.       Rintangan-rintangan yang bukan manusia
b.      Rintangan-rintangan yang disebabkan orang lain
c.       Pertentangan antara motif-motif positif yang terdapat dalam diri orang itu
d.      Pertentangan antara motif positif dan motif negative yang terdapat dalam diri orang itu.

3.      Reaksi-reaksi yang Mungkin Timbul Karena Adanya Frustasi
a.       Agresi, yaitu reaksi menentang atau suatu serangan yang bersifat langsung dan tidak langsung.
b.      Mengundurkan diri
c.       Regresi (kemunduran)
d.      Fiksasi (Fixation)
e.       Represi (Pendesakan)
f.       Gangguan psikosomatis
g.      Rasionalisasi
h.      Proyeksi (Projection)
i.        Sublimasi
j.        Kompensasi
k.      Berkhayal atau melamun (Fantasy or day dreaming)

4.      Pendidikan dan Frustasi
Supaya lebih jelas betapa pentingnya soal frustasi irtu bagi pendidikan anak-anak, juga supaya pembicaraan kita agak sistematis, berturut-turut akan kami uraikan secara sinngkat :
a.       Masyarakat dan Frustasi
Dalam ilmu jiwa sosial diketahui bahwa manusia menurut pembawaannya adalah makhluk sosial. Suatu masyarakat akan berjalan dan berkembang dengan baik jika tiap-tiap anggotanya dapat menyesuaikan diri dengan dalam masyarakat.
Penyesuaian diri bukanlah hal yang mudah. Sebab, meyesuaikan diri berarti menjumpai dan menngalami bermacam-macam situasi yang penuh ketegangan-ketegangan atau frustasi. Peraturan-peraturan dan adat istiadat serta kehidupan masyarakat itu seringkali bertentangan dengan kehendak orang-perorang. Seseorang baru dapat dikatakan telah berhasil menyesuaikan diri, jika telah mengetahui dan dapat menjalankan peranan sosialnya yang sesuai dengan masyarakat itu.
b.      Sekolah dan Frustasi
Di sekolah lebih banyak peraturan-peraturan dan tugas pekerjaan yang harus dipatuhi dan dikerjakan daripada di rumah. Peralihan yang sangat mendadak dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan sekolah akan dirasa sangat berat terutama oleh anak – anak yang baru saja masuk sekolah, jika sekolah tidak dapat menyesuaikan tugasnya dengan mengingat kehidupan anak itu sebelum masuk sekolah. Kesimpulannya :
1)      Anak harus berkembang menjadi anggota masyarakat,
2)      Menyesuaikan diri itu ternyata bukan soal mudah, sebab menyesuaikan diri berarti berani menghadapi bermacam-macam situasi yang penuh dengan frustasi dan ketegangan-ketegangan
3)      Sekolah berkewajiban membantu anak dalam hal “menyesuaikan diri” dalam kehidupan masyarakat.
4)      Dalam menjalankan tugasnya, sekolah hendaklah mengingat dan berpedoman kepada kehidupan anak sebelum masuk sekolah, dan mengingat pula tuntutan-tuntutan masyarakat yang harus sudah mulai dijalankan oleh anak itu di sekolah.
c.       Sikap Pendidik
1)      Pendidik tidak boleh bersikap terlalu keras terhadap anak didiknya
2)      Sebaliknya sikap yang terlalu lunak dan lemah dari si pendidik tidak dapat dibenarkan pula







BAB IX
KEPRIBADIAN (PERSONALITY)
1.      Sikap, Sifat, Tempramen dan Watak
Para ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kepribadian/personality itu bukan hanya mengenai tingkah laku yang di amati saja, tetapi juga termasuk didalamnya apakah sebenarnya individu itu. Sikap atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Menurut Ellis, yang sangat memegang peranan penting didalam sikap ialah faktor perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respons, atau kecenderungan untuk bereaksi.
Kata “sifat” (traits) dalam istilah psikologi, berarti ciri-ciri tingkah laku yang tetap (hampir tetap) pada seseorang. Secara sederhana dapat dikatakn: sifat merupakan ciri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak di pengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh dan cenderng bersifat tetap/stabil.
Tempramen adalah sifat-sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan konstitusi tubuh. Yang dimaksud dengan konstitusi tubuh disini ialah keadaan jasmani seseorang yang terlihat dalam hal-hal khas baginya.  .
Pengertian watak seringkali pula dihubungkan dengan pengertiian moral atau nilai-nilai etis, yakni apa yang disebut baik dan buruk. I. R. Pedjawijaya mengemukakan : “Watak atau karakter ialah seluruh aku yang ternyta dalam tindakannya (insane, jadi dengan pilihan) terlibat dalam situasi, jadi memang di bawah pengaruh dari dari pihak bakat, tempramen, keadaan tubuh, dsb.
2.      Uraian Selanjutnya tentang Tempramen dan Watak
Hippocrates dan Galenus (400 S.M dan 175 S.M) mengemukakn bahwa manusia dapat dibagi menjadi 4 golongan, menurut keadaan zat-zat cair yang ada dalam tubuhnya. Empat golongan tersebut adalah :
a.      Sanguinis (yang banyak darahnya), sifatnya periang, gembira, optimis, lekas berubah-ubah stemming-nya.
b.      Kolerisi (yang bnyak empedu kuningnya), sifatnya garang, hebat, lekas marah, agresif.
c.       Flegmatisi (yang banyak lendirnya), sifatnya lamban, tenang, tidak mudah berubah.
d.      Melankolisi (banyak empedu hitamnya), sifatnya muram, tidak gembira, pesimistis.
3.      Kepribadian (Personality)
a.       Arti Kepribadian
Menurut asal katanya, kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latinpersonare yang berarti mengeluarkan suara. Kini kata personality oleh para ahli psikologi dipakai untuk menunjukkan sesuatu yangnyata dan dapat dipercaya tentang individu, untuk menggambarkan bagaimana dan apa sebenarya individu itu.
b.      Definisi Kepribadian
Kepribadian mengandung pengertian yang sangat kompleks. Berkali-kali dikatakan, kepribadian itu mencakup brbagai aspek dan sifat-sifat fisis maupun psikis dari seorang individu.
c.       Aspek-aspek Kepribadian
-          sifat-sifat kepribadian
-          intelejensi
-          pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan
-          kesehatan
-          bentuk tubuh
-          sikapnya terhadap orang lain
-          pengetahuan
-          keterampilan (skills)
-          nilai-nilai
-          penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan
-          peranan
-          the self
d.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepribadian
1)      Faktor Biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis.
2)      Faktor Sosial, yang dimaksud dengan faktor sosial disini ialah masyarakat; yakni manusia-manusia lain disekitar individu yang mempengaruhi individu yng bermanfaat.
3)      Faktor Kebudayaan;
Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukkan kepribadian antara lain :
Ø  nilai-nilai
Ø  adat dan tradisi
Ø  pengetahuan dan tradisi
Ø  bahasa
Ø  milik kebendaan

0 komentar:

Posting Komentar