Copyright © It's mine
Design by Dzignine
Senin, 07 Desember 2015

Humanisme dalam Kehidupan Sosial

Humanisme adalah suatu faham filsafat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria segala sesuatu. Humanisme mempunyai objek utama yaitu sifat hakiki manusia beserta batas-batas dan kecenderungan alamiahnya. Humanisme sebagai istilah, dalam sejarah intelektual, selalu menyoroti persoalan-persoalan kemanusiaan yang sering digunakan di dalam kajian bidang filsafat. Humanisme sebagai gerakan intelektual muncul pada era renaissance yang memiliki akar kuat pada zaman Yunani Kuno. Dua hal pokok di dalam peradaban Yunani Kuno yang menjadi sumber konsep humanisme adalah perkembangan pemikiran filsafat dari persoalan alam (kosmologis) menuju pembicaraan soal-soal manusia (antropologis) dan konsep “paideia” sebagai sistem pendidikan Yunani Kuno yang menjadi awal dari kesadaran intelektual manusia dan menjadi perenungan eksistensi manusia dalam bentuk daya nalarnya
 Humanisme adalah aliran yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia, sehingga manusia menduduki posisi yang sangat sentral dan penting diantara makhluk lain di dunia. Maka dalam faham ini menyatakan bahwa segala ukuran nilai dan referensi akhir dari semua kejadian manusiawi dikembalikan kepada manusia sendiri, bukan pada kekuatan-kekuatan diluar manusia (misalnya, kekuatan Tuhan atau alam). Humanisme saat ini merubah pikiran, sikap dan cara pandang manusia dalam melihat dunia dan dirinya. Manusia bukan lagi bagian dari alam dan manusia berada lebih tinggi dari segalanya.
Awalnya humanisme berasal dari suatu gerakan intelektual dan kesusastraan yang muncul di Italia pada abad ke-14 masehi. Di Eropa, humanisme merupakan garda depan penggerak kebudayaan modern. Humanisme sebagai suatu gerakan intelektual dan kesusastraan pada prinsipnya merupakan aspek dasar dari gerakan Renaisanse (abad ke 14-16 M.). Humanisme menghendaki lepasnya hegemoni gereja yang mengekang ilmu pengetahuan untuk berkembang. Meski menentang sebagian besar pemikiran dan kebijakan gereja pada waktu itu, humanisme masih mengakui adanya kekuasaan Tuhan. Di mata humanisme kekuasaan Tuhan tidak menentukan segalanya atas manusia, manusia bisa menentukan nasibnya sendiri.
Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia.
Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat.
Akar kata humanisme, secara literal, berasal dari kata Humilis (kerendahan hati), dari bahasa Latin humus, bumi atau tanah, kata-kata ini menunjuk pada pengertianhomo, makhluk bumi, dan humanus, penghuni bumi, manusia. Humanisme, dalam konotasi jamak, adalah paham-paham mengenai manusia. Humanisme muncul ketika manusia menyadari dirinya sebagai manusia. Humanisme merupakan cara manusia memandang dirinya sendiri. Humanisme tidak akan muncul tanpa partisipasi aktif manusia, setiap saat, untuk merumuskan keberadaan, sudut pandang, peran, makna dan tujuan dia. Humanisme menjadkan manusia menjadi sebuah ambigu. Humanisme merayakan keberadaan manusia,namun humanisme juga yang meniadakan manusia. Humanisme memberi keistimewaan posisi dan peran manusia, namun humanisme pula yang menyatakan bahwa manusia hanyalah bagian dari keberadaan semuanya. Humanisme memberi pandangan atas kemampuan berpikir manusia, namun dalam humanisme pula manusia belajar bahwa banyak hal yang dia pikir hanyalah serpihan dari sebuah proses ketidak sadaran yang jauh lebih besar.
Manusia Sebagai makhluk Individu dan makhluk Sosial, yaitu makhluk yang tidak dapat dibagi dan tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raga, keberadaanya sebagai makhluk tunggal yang memiliki ciri khas dengan corak kepribadiannya termasuk kemampuan kecakapannya. Setiap manusia memiliki perbedaan, hal itu dikarenakan manusia memiliki karakteristik sendiri, memiliki sifat, watak, keinginan, dan cita-cita yang berbeda satu sama lainnya.
Kebebasan adalah hak setiap individu selama kebebasan itu tidak merugikan orang lain. Manusia yang keberadaannya tidak bisa di pisahkan dari aktivitas berfikirnya yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dan lingkungan di mana dia berada. Dari keadaan ini memunculkan berbagai ide, baik itu berupa gagasan yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan maupun sikap. yang kesemuanya itu tidak mungkin terpenuhi tanpa adanya sikap toleransi dari lingkungan dimana ia berada. Jadi, toleransi dan kebebasan adalah dua hal yang mesti ada dan saling berhubungan yang tak dapat dipisahkan.

Jadi manusia pada saat ini banyak yang tidak saling menghargai satu sama lain atau kurangnya sifat tenggang rasa atau  toleransi, dikarenakan adanya berbagai pandangan dari pemahaman agama yang mereka ambil. Padahal pada hakekatnya semua agama tidak melarang kepada penganutnya untuk berinteraksi kepada agama lain, baik tetangga atau pun orang yang baru dikenal

Pemahaman keagamaan adalah hal yang paling esensial demi terwujudnya masyarakat kondusif. Pada prinsipnya semua agama mengedepankan budaya toleransi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian dari ketinggian kekuasaan sang Khalik. 
Berangkat dari sebuah pandangan yang salah akan melahirkan pemahaman-pemahaman yang salah pula, yang kemudian memunculkan banyak kontradiksi yang dengan sendirinya mengundang banyak pertanyaan.

Membicarakan toleransi dan kebebasan beragama adalah sesuatu yang tidak mungkin tanpa mengetahui hakikat agama dan batasan, cakupan, serta pengertian toleransi dan kebebasan secara benar dan tepat. Pemahaman tentang toleransi dan kebebasan beragama sangat bergantung pada pemahaman kita akan agama itu sendiri. Individualisme yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu diperhatikan, Kita bukan hanya umat manusia, tetapi kita juga adalah individu-individu unik yang bebas untuk berbuat sesuatu dan menganut keyakinan tertentu.

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itulah manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Demikian padatnya kebutuhan manusia sehingga persinggungan diantara mereka tidak mungkin terelakkan. Bahkan di dunia yang semakin mengglobal ini, persinggungan itu telah menembus batas. Batas ruang, waktu, budaya, agama dan juga ideologi.
Permasalahan ini harus diperhatikan dengan baik, agar tidak berubah menjadi gesekan yang akan menghilangkan harmonisme dalam kehidupan. Untuk menjaga permasalahan ini diperlukan sebuah konsep saling mengerti, yang dalam bahasa kita dikenal denganteposeliro atau tenggangrasa. Yaitu sikap saling menghormati dan saling menghargai perasaan orang lain. Karena hanya dengan sikap inilah keselarasan hidup bersama orang lain akan tetap tercipta. Apalagi jika mengingat keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan juga bahasa. Maka memiliki sikap tenggangrasa menjadi sebuah kewajiban bagi saiapapun yang hidup di Indonesia.

manusia sebagai makhluk sosial manusia adalah makhluk monodualis, disamping sebagai makhluk individu, manusia juga sebagai makhluk sosial yaitu bahwa setiap manusia dalam menjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan satu sama lainnya, serta menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial, alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu manusia tunduk pada aturan, norma sosial dan Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian maka manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain dan Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup ditengah-tengah manusia. Fungsi dan peran manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tergantung  peranan sosial manusia tersebut (terjadinya interaksi sosial).
Sikap manusia terhadap perbedaan kepentingan individu dan kepentingan sosial manusia selalu terdiri dari dua kepentingan, yaitu kepentingan individu yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau golongan dan kepentingan masyarakat yang termasuk kepentingan rakyat, dalam diri manusia kedua kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan, Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi paham/aliran bahkan ideologiyang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat.
Proses interaksi manusia dengan masyarakat lain yang ada di lingkungan-nya merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial, Selain itu interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara seseorang dengan orang lain dan seorang dengan kelompok, berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor yaitu:
 1.Imitasi, Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.
2.Sugest, Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.
3.Identifikasi, Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
4.Proses simpati, Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.
Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
Seorang manusia dikatakan berhasil menjadi manusia yang tenggang rasa dan toleransi di masyarakatnya akan merasakan hidup rukun dan nyaman ketika ia bisa ber interaksi dengan orang lain, dengan kelompok dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dan manusia tersebut bila kurang bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekitarnya maka akan terjadi sikap acuh tak acuh sesama tetangga atau masyarakat lain nya, jadi ketika manusia bisa berinteraksi secara baik dan benar maka ia akan merasa nyaman dengan keadaan sekitar.

0 komentar:

Posting Komentar